PUSARAN.ONLINE – erkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) sudah enam kali digelar sejak penyelenggaraan perdana di Bumi Perkemahan Cibubur pada 2006. Dua dekade berlangsung, enam warisan PPSN 2006–2026 bergerak dari perburuan rekor menuju gerakan merawat bumi.
Berdasarkan catatan Tim Humas Ditjen Pesantren, Jumat (2/10/2026), perjalanan PPSN bermula dari satu gagasan sederhana: mempertemukan santri lintas daerah dalam satu ruang kebangsaan. Dari perkemahan perdana di Cibubur, kegiatan ini tumbuh menjadi agenda nasional yang digelar berkala dan meninggalkan jejak berbeda di setiap penyelenggaraannya — dari rekor MURI, perjumpaan lintas negara, hingga isu-isu kontemporer seperti kelestarian lingkungan.
2006 Cibubur: Kacu Raksasa dan Titik Awal Sebuah Tradisi
PPSN pertama digelar di Bumi Perkemahan Wiladatika Cibubur, Jakarta, pada 10 – 14 September 2006. Ajang ini mempertemukan ribuan santri dari berbagai daerah. Di tengah perkemahan, para peserta membentangkan kacu Pramuka raksasa yang tercatat dalam Rekor MURI sebagai kacu terbesar.
Penyelenggaraan perdana ini berlangsung pada masa Menteri Agama Maftuh Basyuni, ketika lembaga ini masih bernama Departemen Agama. PPSN I juga dibuka oleh Menag Maftuh Basyuni. Beberapa sumber mencatat, PPSN I diikuti lebih dari lima ribu pramuka santri. Sejak awal, PPSN hadir sebagai ruang perjumpaan identitas pesantren dalam satu semangat kebangsaan.
Sebelum penyelenggaraan PPSN perdana di Cibubur, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 14 Agustus 2006, mencanangkan Gerakan Revitalisasi Pramuka. Revitalisasi ini ditujukan agar Gerakan Pramuka dapat dikembangkan secara inovatif melalui pendekatan dan kegiatan yang lebih sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat dewasa.
2009 Jatinangor: Pesan Kebangsaan Lewat Semaphore
Tiga tahun berselang, PPSN kedua berlangsung pada 15–20 Juni 2009 di Bumi Perkemahan Letjen (Purn.) Dr. H. Mashudi, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, dengan sekitar 5.500 pramuka santri dari seluruh Indonesia. Mereka membentuk parade semaphore sepanjang kurang lebih dua kilometer dan sempat mencatatkan Rekor MURI. Pesan yang dikirimkan bukan sekadar atraksi, melainkan lagu-lagu kebangsaan seperti Indonesia Raya, Satu Nusa Satu Bangsa, dan Dari Sabang Sampai Merauke.
Edisi ini memperoleh perhatian khusus dari negara. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka perkemahan pada 17 Juni 2009, didampingi Menteri Agama Maftuh Basyuni dan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Azrul Azwar. Hadir juga, Menkominfo Muh. Nuh, dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.
Dari mimbar upacara, Presiden meminta seluruh menteri dan kepala daerah memberi dukungan optimal bagi gerakan pramuka di lingkungan pesantren. Menurutnya, gerakan pramuka di lingkungan pesantren telah lama dikenal, sejak zaman kolonial Belanda. Pada pondok-pondok pesantren di seluruh tanah air telah berdiri organisasi-organisasi kepanduan yang terlibat aktif menanamkan semangat perjuangan dan wawasan kebangsaan. Organisasi kepanduan masa itu ikut memperkokoh peran pondok pesantren dalam menjalankan perannya sebagai lembaga Dakwah Islamiyah, sekaligus juga sebagai pusat perlawanan terhadap kolonialisme.
Kehadiran peserta dari sejumlah negara sahabat pada tahun itu turut membuat PPSN tampil dengan wajah yang lebih luas.
2012 Batam: Gurindam Dua Belas Membentang
PPSN ketiga digelar pada 2–8 Juli 2012 di Bumi Perkemahan Raja Ali Kelana, Batam, Kepulauan Riau, dan dibuka Menteri Agama Suryadharma Ali pada 3 Juli. Edisi ini tampil dalam format gabungan bersama Perkemahan Wirakarya Nasional mahasiswa PTAI dengan tajuk Perkemahan Pramuka Pendidikan Islam Nusantara.
Pembukaan berlangsung meriah dengan sambutan seratus lima puluh pemain kompang, sementara 4.339 santri mengarak seluruh huruf Gurindam Dua Belas dalam kirab tulisan terpanjang yang juga tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (Muri). Batam juga menghadirkan seminar cinta bahari, wisata bahari, pameran karya pesantren, dan festival seni. Perpaduan itu membuat PPSN ketiga kental dengan nuansa Melayu, bahari, dan kebangsaan sekaligus.
Dirjen Pendidikan Islam saat itu, Nur Syam, melaporkan bahwa PPSN III diikuti sekitar 5.000 santri dan mahasiswa dari seluruh daerah di tanah air serta pramuka dari Malaysia dan Singapura.
2015 Tanah Laut: Nusantara Masuk ke Dalam Perkemahan
Bergeser ke Bumi Perkemahan Agrowisata Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (Kalsel), PPSN IV berlangsung pada 1–7 Juni 2015. Acara ini diikuti sekitar 4.000 santri dari 33 provinsi. Temanya menautkan akhlak mulia dan bela negara, persisnya: “Kuatkan Jati Diri Santri yang Berakhlak Mulia, Berwawasan Nusantara, untuk Menjaga Lingkungan dan Bela Negara”.
PPSN IV dibuka oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada 2 Juni 2015. Hadir, Wakil Gubernur Kalsel dan jajaran, Ketua Kwarnas, Bupati Tanah Laut dan jajaran, serta para pemimpin pesantren se-Kalsel. Menag yang juga pernah menjadi Ketua Gugus Depan (Gudep) saat di pesantren menyebut Pramuka dan santri sebagai kombinasi mentalitas yang serasi — sama-sama menempa kemandirian dan kedisiplinan.
Menag LHS mengatakan, sejarah mencatat, kelahiran pramuka di Indonesia, diawali dengan kelahiran gerakan kepanduan yang terjadi sejak era kebangkitan nasional, dari awal abad ke-20 yang berlanjut hingga era kemerdekaan. Di Indonesia, ada Javananse Padvinders Organizayie (JPO), Jong Java Padvinderij (JJP), Nationale Islamitsche Padvinderij (NATIPIJ), Sarekat Islam Afdeling Padvinderij (SIAP), Hisbul Waton (HW), Kapanduan Muhammadiyah dan lainnya yang tidak bisa lepas dari semangat untuk membebaskan diri dari penjajahan dan membangun harga diri bangsa.
Pada pembukaan PPSN IV, ribuan pelantun Madihin hadir dengan maskot bekantan “Si Amang” sebagai simbol identitas Kalimantan Selatan. Warisan Tanah Laut berlanjut setelah tenda dibongkar: melalui proses seleksi PPSN IV, 33 Pramuka santri memperoleh golden ticket untuk program ASEAN SCETRO dan dipersiapkan berkeliling Vietnam, Thailand, Kamboja, Malaysia, dan Singapura. PPSN pun bukan lagi sekadar ruang temu, melainkan gerbang menuju pengalaman internasional.
2018 Muaro Jambi: Nuansa Milenial dan Kearifan Lokal
PPSN kelima digelar pada 24–30 Oktober 2018 di Bumi Perkemahan Abdurrahman Sayoeti, Sungai Gelam, Muaro Jambi. Saat itu, PPSN menjadi rangkaian dari peringatan Hari Santri. Peringatan Hari Santri digelar secara rutin setiap tahun sejak terbitnya Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri pada 15 Oktober 2015.
Mengusung tema perdamaian dengan tiga spirit — budaya pesantren, budaya Nusantara, dan nasionalisme — PPSN V dibuka Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada 25 Oktober dan dihadiri Ketua Kwartir Nasional Budi Waseso, Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin, Wakil Gubernur Jambi, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Zayadi, Kakanwil Kemenag Jambi Muhammad.
PPSN V mengangkat tema “Pramuka Santri Menebar Kedamaian untuk Indonesia yang Kuat dan Berkarakter”. Kegiatan ini diikuti 3500 peserta dari seluruh Indonesia. Lebih lima ribu undangan hadir dalam pembukaan. PPSN Jambi menjadi saksi kali pertama pembentukan Satuan Karya (Saka) Amal Bhakti, mulai dari gerakan Pramuka Siaga, Penegak, hingga Pandega.
Ada 12 giat yang akan berlangsung dari 24-30 Oktober 2018, antara lain: upacara, pembinaan mental spiritual (salat berjamaah, kultum, salat malam, dan muhasabah, tadarus alquran) , teknik kepramukaan dan team building (out bound, tata rias, pppk, mencari jejak), iptek (sablon dan cetak, jurnalistik, reportase, dan bordir), kesakaan (Bahari, kalpataru, pariwisata, kencana, taruna, wanabakti), petualangan (sar air, resque), pengembangan wawasan, keterampilan, seni budaya, prestasi, dan bakti (santri peduli lingkungan).
Kegiatan teknologi informasi, film pendek, pergelaran budaya, dan festival membuat penyelenggaraan ini terasa lebih dekat dengan denyut generasi milenial. Tuan rumah Jambi tampil sebagai Kontingen Terbaik sekaligus Kontingen Tergiat, sementara warisan budayanya tercatat melalui Bahana Melayu Krinok dan maskot Sisemah.
2026 Malang: Dari Rekor Menuju Legacy Baru
Setelah delapan tahun, PPSN VI digelar di Pondok Pesantren An-Nur II Malang, Jawa Timur, pada 30 September–6 Oktober 2026. Ini adalah PPSN perdana pada masa Menteri Agama Nasaruddin Umar dan setelah dibentuknya Direktorat Jenderal Pesantren berdasarkan Keputusan Menteri Agama No 16 Tahun 2026.
Jika edisi-edisi sebelumnya meninggalkan jejak berupa kacu, semaphore, Gurindam Dua Belas, Madihin, dan Krinok yang beberapa di antaranya tercatat dalam Rekor MURI, PPSN Malang mengangkat fokus baru: ekoteologi — gagasan yang menempatkan santri di barisan terdepan dalam merawat bumi sebagai bagian dari laku keberagamaan. Tantangannya kini bukan lagi focus pada mencetak rekor, melainkan melahirkan jejak yang tetap hidup setelah tenda perkemahan dibongkar.
Peserta PPSN VI mencapai 4.524 pramuka santri. Ajang ini mengangkat tema “Membentuk Karakter, Merawat Lingkungan, Meneguhkan Kebangsaan, dan Berdaya Saing Global”.
PPSN VI dibuka oleh Menag Nasaruddin Umar. Hadir dalam pembukaan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indarparawansa, Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin, Wakil Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka Asrorun Ni’am Sholeh, dan Dirjen Pesantren Basnang Said.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pesantren dan gerakan pramuka memiliki misi yang sama dalam membentuk karakter generasi bangsa yang kuat. Keduanya sama-sama mengajarkan kemandirian, pembentukan karakter, akhlak, serta kemampuan bersosialisasi dengan masyarakat.
Dari kacu merah putih di Cibubur hingga semangat merawat bumi di Malang, PPSN tidak sedang mengulang sejarah. Ia sedang menentukan warisan bagi generasi santri berikutnya. Setiap penyelenggaraan membawa bahasanya sendiri untuk berbicara tentang santri, budaya, Indonesia, dan zamannya.














