Headline

Menjadi Manusia di Tengah Kondisi Indonesia yang Maha Sempurna

Oleh: Qomardiansyah

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1945. Sangat menarik sekali ciptaan tuhan yang bernama Indonesia ini penuh dengan gaya seakan akan atas nama manusia tetapi nyatanya sangat memanusiakan manusia (istilah sarkasme).

Meskipun agak balik kepada sejarah perubahan nama dan bentuk negara menjadi NKRI merupakan hasil dari pergulatan kepentingan berbagai aktor politik, baik dari dalam maupun luar negeri. Tidak ada satu “dalang” tunggal, melainkan perbenturan visi antara kelompok nasionalis, rakyat, dan pihak kolonial.

Sangat mirisnya ketika negara dibangun dengan semangat bersama tapi nyata nya bersemangat sekali menjadi manusia yang sangat tidak memanusiakan manusia (manusia penguasa). Jika berkaca pada perjuangan dan dinamika nya, walaupun dinamika dulu selalu bicara kesatuan, menerima toleransi serta adu argumen sekarang adanya dinamika, tidak lama timbul istilah sekarang baper (bawa perasaan/tersinggung) maka dinamika itu akan habis ditelan masa, entah bagaimana caranya yang jelas penguasa lebih memahami caranya.

Melihat Kalimantan Timur yang beberapa hari kemarin memperjuangkan penghapusan penindasan politik family dan hak bernegara (menjadi manusia bernegara). Tapi tidak dibalas dengan sopan malah justru mengendap dibalik power kekuasaan dengan nyaman.

Fenomena ini membuat kita sedikit membuka kacamata sesuai ajaran iwan fals bagaimana menjadi manusia yang manusia. Sulit untuk mendapatkan jawabannya namun menjadi bagus ketika ini dibahas oleh penguasa yang memanusiakan manusia jika membahas dengan segala perspektif untuk kesejahteraan manusia.

Selamat datang kita hidup di negeri yang secara statistik kaya, namun secara distribusi sering kali terasa ironis. Menjadi manusia Indonesia hari ini berarti belajar hidup dalam paradoks. Kita diminta untuk mencintai lingkungan dalam kurikulum sekolah, sementara di luar jendela, eksploitasi atas nama pembangunan sering kali melahap paru-paru hijau kita tanpa ampun. Kita bangga dengan ekonomi yang tumbuh, namun sebagai individu, banyak dari kita yang masih harus bertarung dengan upah yang sekadar cukup untuk menyambung napas, bukan untuk menghidupi martabat.

Di kondisi menjadi manusia Indonesia juga berarti terjebak dalam riuh rendah dunia digital. Kita adalah salah satu bangsa paling cerewet di media sosial. Kesempurnaan Indonesia sering kali dipoles melalui filter-filter estetis di layar ponsel, menutupi retakan sosial yang ada di baliknya. Kita dituntut untuk menjadi warga negara yang patuh, cerdas berteknologi, namun di saat yang sama, ruang untuk berbeda pendapat terkadang terasa kian menyempit oleh riuhnya polarisasi politik.

Sebagai penutup menjadi manusia di sini berarti harus memiliki ketangguhan mental yang luar biasa. Kita dituntut untuk tetap waras di tengah hiruk-pikuk kebijakan yang terkadang berubah secepat cuaca, dan moodnya dia, tapi tetap harus tersenyum ramah—karena begitulah citra “manusia Indonesia” yang sempurna dikonstruksikan oleh dunia.

Related Posts

1 of 45